PTM YANG DIRINDU

 


Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) sudah di mulai di awal Oktober selepas PTS di bulan September 2021. Siswa, orang tua, dan guru menyambut dengan antusias. Setelah hampir dua tahun melaksanakan PJJ karena pandemi virus covid 19, kesempatan PTMT layaknya Oase di tengah Padang Pasir yang gersang. Meski DIY belum zona hijau tetapi level 3 sudah menjadi salah satu syarat diijinkannya PTMT. 

Tentu pelaksanaan PTMT harus berpedoman kepada SKB 4 Menteri yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 3/Kb/2021, Nomor 384 Tahun 2021, Nomor HK. 01.08/Menkes/ 4242/2021, Nomor 440-0717/ Tahun 2021 tentang Panduan Penyelenggaran Pembelajaran Di Masa Pandemi Covid 19 yang ditetapkan di Jakarta tanggal 30 Maret 2021. Berdasar SKB 4 Menteri tersebut ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain, kesehatan dan keselamatan menjadi prioritas utama, terdapat kebutuhan pembelajaran tatap muka  bagi siswa yang mengalami kendala PJJ, intervensi vaksinasi diperlukan untuk percepatan pembelajaran tatap muka. Bahkan Gubernur DIY mensyaratkan PTMT boleh dilaksanakan manakala semua warga sekolah sudah vaksin 80%. Di atas semua regulasi yang ada, ijin orang tua dan komite madrasah menjadi kata kunci bisa atau tidaknya PTMT dilaksanakan. Juga  surat ijin dari satgas setempat. 

Namanya juga PTM terbatas, sehingga segala sesuatunya juga dibatasi.  Kehadiran siswa  maksimal 50% , pembelajaran bisa di bagi 2 shift dalam sehari, siswa mengikuti PTM 2 hari dalam seminggu, pembelajaran sehari hanya 3 jam, tetap Prokes 5M (Memakai masker, Mencuci tangan pakai sabun, Menjaga jarak, Menhindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas), siswa membawa bekal makanan sendiri, kantin sekolah belum boleh buka, Tim satgas covid 19 sekolah harus berfungsi dengan maksimal, dan membawa peralatan belajar dan alat ibadah sendiri-sendiri.  

Semua persyaratan sudah terpenuhi untuk melaksanakan PTMT. Beberapa hari sebelumnya semua bapak ibu guru pegawai sudah disibukkan dengan persiapan segala sesuatu terkait PTMT, baik dari segi sarpras, peraturan/tata tertib, jadwal KBM, serta sosialisasi kepada orang tua dan siswa. 

Hari pertama masuk, para siswa  kelihatan masih canggung memasuki halaman madrasah dengan seragam biru putih dan sepatu yang masih tampak baru. Bapak ibu guru berjajar rapi di depan pintu gerbang siap menyambut kadatangan siswa. Cek suhu tidak perlu bersalaman, cukup menangkupkan kedua tangan di atas dada, mengangguk sambil ucap salam. Dilanjutkan dengan  cuci tangan pakai sabun di wastafel yang sudah tersedia berjajar sangat rapi dan bersih. 

Pagi itu, Senin, 4 Oktober 2021  selesai salat dhuha, bacaan asmaul husna, shalawat thibil qulub, sebagai pembiasaan pagi, para siswa  menuju ke kelas masing-masing. Sebelum KBM, diawali dengan tadarus dengan membaca QS. Al Baqarah ayat 1-20 yang dipimpin oleh salah satu siswa secara tersentral di studio madrasah. Semua siswa dan guru jam pertama KBM  mengikuti tadarus dari kelas masing-masing.

Saya berkeliling kelas, ada salah satu kelas yang menarik perhatian karena kosong tanpa ada gurunya.  Setelah ditunggu beberapa menit belum ada tanda-tanya gurunya datang, saya ucap salam masuk kelas. Selesai tadarus saya tanya kenapa anak-anak banyak yang tidak bawa Al Qur'an, mereka diam. Masih dalam kebingungan (mengapa anak-anak ditanya kok diam saja) saya jelaskan bahwa sesuai peraturan setiap  hari anak-anakharus membawa Al Qur'an sehingga bisa menyimak sewaktu tadarus. Saya lanjut dengan pertanyaan berikutnya, sekarang pelajaran siapa, mereka tetap diam ( saya tambah bingung). Denga penuh kesabaran saya tanya lagi, jam pertama pelajaran apa, beberapa anak menjawab dengan lirih tertutup masker sehingga nyaris tak terdengar. Setelah gurunya datang saya baru paham pelajaran apa  pada jam pertama tadi. 

Sambil melanjutkan langkah menuju kelas lain, saya berpikir rupanya pembelajaran daring yang hampir 2 tahun dialami siswa, membawa banyak dampak baik secara psikologis maupun sosial, tidak hanya bagi siswa, tetapi bagi guru juga. Dampak bagi siswa diantaranya: 

1. Pembiasaan dan pembentukan karakter siswa harus dari awal lagi

Walaupun selama daring tetap ada pembiasaan sebelum KBM seperti tadarus, shalat dhuha, asma'ul husna, pembacaan shalawat, dll di rumah masing-masing, tapi tanpa bimbingan langsung dari guru di madrasah hasilnya kurang maksimal. Sehingga ketika PTMT sepertinya semua harus dari awal lagi dan lebih ekstra dalam pembimbingannya. Semua guru piket harus siaga di Musholla mendampingi anak wudhu dan shalat dhuha

2. Tidak kenal nama wali kelas dan gurunya

     Hal ini sering saya tanyakan kepada beberapa siswa. Nak kelas berapa, siapa wali kelasnya. Tidak jarang yang menjawab tidak tahu. Termasuk nama-nama guru mata pelajarannya. Padahal bapak ibu wali kelas setiap hari menyapa, presensi, menyampaikan berbagai macam pengumuman terkait dengan kegiatan madrasah, dan memberi motivasi. Dengan penasaran saya bertanya lagi, masak sama wali kelas dan gurunya sendiri kok tidak kenal nak. Kan daring bu, begitu jawabnya. Apakah nomor beliau-beliau tidak disave di HP. Tidak bu. Mereka menjawab sambil senyum-senyum tanpa merasa berdosa. Saya nasihati untuk save nama wali kelas dan semua nama bapak ibu guru yang mengajar. Untung setelah saya tanya siapa nama kepala madrasahnya mereka tahu πŸ˜…. 

3. Tidak membawa buku pelajaran lengkap sesuai jadwal. 

Alasannya lupa, tergesa-gesa, tidak tahu jadwal, dan bukunya ketlingsut (lupa meletakkan). Hal ini lazim  terjadi juga sebelum masa pandemi, tapi biasanya hanya terjadi bagi siswa yang kurang tertib.

4. Tidak kenal dengan teman satu kelasnya. 

Hal ini wajar karena selama ini full daring terutama yang sekarang kelas 8. Hampir tidak pernah kenal dan bertemu dengan teman sekelasnya. Mereka merasa baru bertemu dan kenal  ketika PTMT ini. 

5. Pemalu dan kurang PD

Anak-anak kalau ditanya tidak langsung menjawab. Mereka malu dan takut-takut untuk menjawab, hal ini karena interaksi pembelajaran di kelas selama ini diganti dengan daring. Secara sosial mereka tidak bisa berinteraksi secara langsung. Sehingga ketika bertemu langsung dengan orang lain ada perasaan malu, canggung, takut dan tidak percaya diri dalam berbicara dan berpendapat.

Semoga dengan adanya PTMT ini mengobati rasa rindu siswa dan guru. Rindu untuk belajar bersama. Rindu untuk berprestasi bersama. Saling bersinergitas menyatukan semangat dalam belajar dan mengajar. Sehingga lebih berprestasi lagi. Sudah banyak capaian prestasi di masa pandemi. baik prestasi akademik maupun non akademik. Baik prestasi di tingkat nasional bahkan sampai international.

Semoga tidak lama lagi pandemi segera berlalu. Semua kehidupan akan kembali normal, termasuk pembelajaran dan pendidikan. Satukan energi, satukan semangat. Raih prestasi tertinggi.. Menuju Madrasah Hebat Bermartabat.  Madrasah Mandiri Berprestasi Berkelas Dunia.


Komentar

  1. Wah ...pengamat dan penulis yang jeli .....keren banget ini mah. ..lanjutkan Bun. ....πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bunda Helwi atas support dan motivasinya πŸ™πŸ™❤️

      Mohon bimbingan dan masukan ya say

      Hapus
    2. Terima kasih bunda Helwi atas support dan motivasinya πŸ™
      Mohon bimbingan dan masukan selalu say ❤️

      Hapus
    3. Terima kasih atas support dan motivasinya bunda Helwi
      Mohon bimbingan dan masukan selalu say ❤️

      Hapus
  2. Wah ...ini benar-benar analisa yg tajam. Sukses bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sayπŸ’ž
      Bu Mardiyah aku jadi malu 🀭😊

      Hapus
  3. Masyaallah, bunda keren sekali. Jadi mengetahui pembiasaan di madrasah tempat bunda mengajar. Senyum2 jg bacanya karena jg terjadi dimadrasah saya. Salam kenal bundaπŸ™πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bu Rohaina ini problem kita bersama. Tp kita hrs tetap semangat demi generasi masa dpn bangsa

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Mafrudah

Ciptakan Peluang Melalui Literasi Digital