Resume ke : 7
Hari dan tanggal : Jumat, 18 Oktober 2021
Narasumber : Ditta.Widya Utami, S.Pd.Gr.
Moderator : Maesaroh
Seperti biasa aktivitas seharian diakhiri dengan cerita malam walau bukan di meja makan. Malam 12 Rabi'ul Awwal, setelah shalat magrib berjamaah alhamdulillah bisa mengajak 35 santri yatim Darul Hadhonah untuk bersama-sama membaca shalawat dziba' di mushalla Al Manshur depan teras rumah. Rasanya bahagia tak terperi bisa berbagi bahagia bersama menyambut kelahiran Kekasih Allah Swt., Pemimpin Dunia Seantero Negara Nabi Muhammad Rasulullah Saw. Lantunan shalawat dziba' terus bergema sampai adzan isya berkumandang. Semoga kita selalu mendapat Syafaat dan Nuur Cahaya Rasulullah Saw.
Pukul 21.00 baru selesai beberes, saya mulai buka WAG BM 22 sudah mencapai150 chat. Saya amati flyer dan membaca judulnya. Mengatasi Writer's Blocks, wow keren juga judulnya. Saya terus berselancar mencoba memahami setiap chat WAG BM 22.
"Apakah Writer's Blocks?" Tanya Sang Moderator hebat Maesaroh yang sebelumnya juga sebagai narasumber di pertemuan ke 3 dengan judul Trik Cepat Membuat Resume di Blog. "Kita akan mengupasnya di sini bersama narasumber yang cantik, prestatif, penuh semangat membahana dengan gelar Blogger Milenial". Demikian lanjutnya. Di awal pertemuan, sang moderator memperkenalkan profil narasumber secara lengkap melalui sebuah tautan link: https://dittawidyautami.blogspot.com/p/profil.html. Ia adalah Ditta.Widya Utami, S.Pd.Gr seorang guru IPA di SMPN 1 Cipeundeuy, Subang Jawa Barat. Lahir di Subang, 23 Mei 1990. Ia juga alumni BM OmJay gelombang 7 yang kemudian naik kelas menjadi moderator dan narasumber. Sebagai penggiat literasi nasional, banyak prestasi yang telah diraihnya, antara lain Sang peraih Penghargaan Bupati Subang (2020), pula peraih Penghargaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang sebagai guru berprestasi (2021). Prestasi literasinya yang membanggakan hingga karyanya yang mampu menembus Penerbit Mayor, memberikan jejak prestasi literasi yang baik bagi tanah Subang. Penulis 6 buku solo dan 13 buku antologi serta aktif berorganisasi.
Sekarang kita masuk acara inti. Sang narasumber membuka kelas BM dengan mengajak peserta untuk menulis dengan 3 kata: HUJAN, PAGI, HANTU. Tulisan boleh bebas (puisi, pentigraf, dan lain-lain). Waktu yang diberikan hanya 15 menit. Peserta mengirimkan langsung di grup dengan menuliskan :
Nama
Gelombang
Asal daerah
Tulisan :
Ada 10 peserta yang sudah merespon dalam waktu 15 menit, semua bagus-bagus tulisannya dan luar biasa. Saya juga tidak mau ketinggalan ikutan menulis, walaupun tidak pada saat sesi.
Nama : Mafrudah
Gelombang : 22
Asal daerah : Bantul, DIY
Tulisan : Pagi itu sangat cerah bahkan cenderung panas menyengat sampai siang mengiringi seabreg kegiatan rutinitas kedinasan. Aktivitas pagi diawali dari monitoring KBM PTM, tanda tangan administrasi guru yang sudah menumpuk di meja kerja, melayani konsultasi dari bapak ibu guru dan koordinasi dengan KTU. Kegiatan terakhir adalah monev Latsar CPNS di Kemenag Bantul bersama Widya Iswara dari Balai Diklat Keagamaan Semarang sampai sore. Jelang pulang, suasana sudah mulai gelap pertanda hujan. Benar saja, baru menstarter mobil, brezzzzz hujan turun dengan deras mengguyur Kota Bantul disertai angin. Sepanjang perjalanan, hujan semakin deras dan cuaca semakin gelap mencekam. Semua kendaraan yang lewat hampir tidak terlihat, seperti bayangan hantu yang saling berkelebat diantara nyala lampu dan hujan lebat. Laiknya hantu, kadang terlihat kadang tidak dalam gelap. Speedo mobil menunjukkan angka 20 Km. tidak berani lebih dari itu, apalagi menyalip kendaraan lain. Sangat berbahaya. Harus esktra hati-hati, apalagi Ring Road ternyata banjir. Alhamdulillah bisa pulang sampai rumah jelang magrib dengan selamat.

Diantara peserta mungkin ada yang masih bingung harus menulis apa dengan kata Hujan, Pagi, dan Hantu. Sehingga belum sempat membuat tulisan di simulasi kali ini. Sebagian mungkin ada yang masih merasa malu, takut tidak sesuai kaidah, takut dibandingkan dengan hasil orang lain, dan sebagainya. Sehingga tidak menulis juga. Atau, ada yang masih asing dengan tema hantu. Sehingga tidak tahu harus menulis apa. Nah, apa-apa yang disebutkan tadi adalah contoh penyebab Writer's Blocks (WB).
Wikipedia mengartikan writer's block sebagai keadaan saat penulis kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisannya. Keadaan ini bisa menimpa penulis pemula maupun profesional.

WB juga tidak terbatas pada penulis buku saja. Blogger, mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir, screen writer (penulis naskah seperti untuk film, sinetron), script writer (penulis teks untuk dibacakan pembaca berita), dan lain-lain juga bisa mengalami WB. Dalam sebuah artikel di idntimes disebutkan bahwa berdasarkan sebuah penelitian dari Yale psychologists pada tahun 1970 dan 80-an yang akhir-akhir ini kembali ditinjau New Yorker, writer's block merupakan hal yang konkrit dan fenomena yang bisa diatasi. Untuk memahami fenomena ini, dua orang psikolog, Jerome Singer dan Michael Barrios pun mengadakan sebuah penelitian terhadap para penulis dengan latar belakang berbeda. Dari berbagai sumber lain yang dibaca Ditta.Widya Utami, serta hasil pengamatan saat menjadi narasumber, bisa disimpulkan beberapa penyebab WB, yaitu :
1. Topik yang asing.
Topik yang asing atau mencoba metode baru dalam menulis bisa membuat kita mengalami WB.
Bagaimana solusinya? Antara lain bisa dengan mempelajari lebih seksama terkait metode baru tersebut (misal terbiasa menulis cerpen kemudian harus menulis KTI). Atau jika terkait tema, kita bisa jeda sedikit saat menulis lalu membaca referensi tambahan terkait tema untuk memperkaya wawasan dan kosa kata. Perbanyak bahan bacaan terkait tema yang akan ditulis. Bisa dengan blog walking, membaca buku, koran, diskusi, menonton berita, mendengar radio, wawancara, atau apa pun yang penting masih terkait dengan topik yang akan ditulis. Sehingga akan dapat membantu membuka kembali pikiran kita.
2. Stress
Stress juga bisa jadi penyebab WB. Anda yang terlalu khawatir dengan penilaian orang, bisa jadi menyimpan tulisan disimpan sendiri dan untuk dikenang๐
. Khawatir kalau orang lain tidak suka, tidak sesuai KKBI, diksinya kurang OK, dan kekhawatiran lain sejenis yang membuat kita terserang WB. Untuk kasus ini, ingatkan pada diri sendiri bahwa kita tak akan pernah bisa membuat semua orang suka dengan kita, tapi yakinlah bahwa apa yang kita tulis akan tetap bermanfaat minimal bagi diri sendiri.
3. Lelah fisik/mental
Dengan menulis bisa juga sebagai terapi psikologi, sebagai indikator bahwa fisik/mental kita sedang lelah, atau banyak pekerjaan. Selain lelah fisik, work under pressure juga bisa menyebabkan kita lelah secara mental. Nah, saat ini terjadi, yuk ambil nafas dan rehatlah sejenak. (ingat hanya sejenak ya) ๐๐. Refresh kembali hati, fisik dan pikiran kita.
4. Terlalu perfeksionis
Terlalu ingin yang sempurna. Misal tulisannya harus dibaca ratusan dan ribuan orang (kalo gak gitu gak akan nulis). Tulisannya harus jadi juara lomba (kalo gak gitu, gak bakal ikut lomba), dan alasan-alasan sejenis. Memiliki target dalam menulis itu penting. Tapi jangan sampai hal tersebut membuat kita terlalu perfeksionis sehingga malah kehilangan ide ide baru untuk menulis.
Simulasi yang tadi kita lakukan adalah contoh dari menulis bebas.Namanya juga menulis bebas, aturan penggunaan tanda baca dll yang sesuai PUEBI bisa dikesampingkan terlebih dahulu.Yang penting nulis dulu. Jangan takut salah. Kalau memang ada yang salah (masih ada yang typo, salah ketik, belum menggunakan tanda baca, dsb), is ok masih ada kesempatan untuk revisi atau memperbaiki.
Melansir dari laman Writer’s Digest, menulis bebas akan membantu melatih otak dalam hal menggali kata-kata yang sebenarnya sudah ada di dalam kepala sejak lama, dan memberikan tempat untuk kata-kata baru tersebut dalam proyek tulisan yang sedang kita kerjakan saat ini. Dengan melakukan kegiatan menulis bebas secara rutin, kita bahkan bisa menemukan ide-ide baru untuk menulis banyak hal lain. Ini tentu saja bermanfaat dalam menyembuhkan penyakit WB.
Berikutnya masuk sesi QA.
1. Apakah narasumber pernah mengalami WB?
Menjawab pertanyaan peserta, ternyata narasumber juga pernah mengalami WB. "Kalau saya sedang terserang WB, biasanya saya berhenti menulis sejenak dan melakukan aktivitas lain yang juga saya sukai. Misalnya jalan-jalan, membaca buku ringan, menonton film, dsb. Pokoknya yang bisa jadi mood booster juga, termasuk makan ice cream dan coklat "๐ Demikian narasumber menjelaskan.
2. Berapa lama WB berlangsung?
Jawabannya tergantung seberapa cepat seorang penulis mampu mengatasi kondisi BW tersebut. Dengan kata lain, WB bisa terjadi dalam hitungan menit, jam, hari, bulan, bahkan bertahun-tahun. Pertanyaannya, mau sampai kapan kita biarkan WB ini berlangsung? Kalau kita tak segera bangkit atasi WB, tentu karya tulis tak akan kunjung selesai. Atau mungkin selesai namun dengan hasil yang pas pasan (karena memang sudah deadline harus dikumpulkan).
3. Bagaimana cara untuk menimbulkan gairah membaca dan menulis atau literasi siswa pada umumnya?
Di sekolah/madrasah sebetulnya sudah ada GLS, Gerakan Literasi Sekolah. Bahkan sudah ada aturan resminya dari pemerintah. Mulai dari tahap pembiasaan, siswa dibiasakan membaca 15 menit. Pada tahap ini anak bebas memilih buku yang disukai. Yang penting muncul minat baca dulu. Lanjut ketahap kedua, siswa harus mulai berkarya dari apa yang dibaca. Misal diminta membuat resume dengan canva, membuat infografis, dan sebagainya. Tahap ketiga harus terintegrasi dalam pembelajaran dan dinilai oleh guru mapel. Buku yang digunakan sudah spesifik, yaitu buku nonteks (penunjang pembelajaran, misalnya ensiklopedia, buku novel tentang Gadjah Mada untuk pelajaran sejarah, pokoknya ada kaitannya dengang pembelajaran).
4. Bagaimana solusinya, saat kita sedang asik menulis tiba-tiba berhenti dg berbagai macam sebab? dan mau lanjut ide dan feelnya sudah berbeda dengan tulisan sebelumnya. Sehingga tulisan menjadi tidak tuntas.
Jawabannya bisa dicoba dengan membuat outline tulisan dulu. Outline atau kerangka tulisan boleh jadi berisi ide-ide utama tulisan kita. Kalau buku boleh dibikin semacam daftar isinya dulu. Jadi, kalau pun di tengah jalan WB menyerang, kita tidak akan kehilangan arah karena sudah punya panduan berupa outline tulisan kita. "Saya pun begitu. Bahkan saat menulis artikel. Saya buat outline paragraf satu tentang apa, dua tentang apa, dan seterusnya". Demikian pengalaman narasumber.
Nah kalau ini kasus penyebab WB yang pertama. Salah satu solusinya perbanyak bahan bacaan terkait tema yang akan ditulis. Bisa dengan blog walking, membaca buku, koran, diskusi, menonton berita, mendengar radio, wawancara, atau apa pun yang penting masih terkait dengan topik yang akan ditulis.
Clossing Statemen Narasumber:
Ucapan terima kasih atas antusiasme peserta mengikuti kelas BM. Teruslah belajar untuk menjadi penulis yang bisa diterima oleh pembacanya. Tetap fokus pada tujuan menulis kita masing-masing.
Dan tetaplah semangat untuk berbagi kebaikan. Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Salam literasi untuk kita semua.
Acara ditutup oleh sang moderator cerdas dengan statemen: "Luarbiasaa materi malam ini bunda Ditta ๐ saya yakin setelah pertemuan malam ini, para peserta akan menulis sederas air mengalir menuju muara".
Ada sebuah pantun sebagai penutup resume kali ini:
Pagi-pagi enaknya makan bubur
Bubur ayam belinya di Tangerang
Semangat menulis janganlah diundur-undur
Banyak membaca bangkitkan ide cemerlang
Keren dan menginspirasi tulisan bunda Mafrudah,
BalasHapusSama Bun, aku ikut pertemuan ke-7 tadi malam terlewat event kirim tulisan dgn 3 kata, bantu si sulung Kaka begitu panggilan adiknya, menyiapkan segala sesuatu utk dibawa ke kosnya, sdg magang Bun di kampusnya UIN JKT.
Tetap semangat Bunda, menjadi wanita hebat dengan berbagai aktivitas bermanfaat, smg Alloh mudahkan langkah kita๐๐๐✊✊
Terima kasih bunda Reni saling support utk sll berbagi kebaikan. Sukses sll bt bunda Reni ๐ช๐ฎ๐ฉ
HapusTulisannya mengalir begitu deras. Seperti bukan pemula yang sering menghadapi WB. MANTAAAP๐๐
BalasHapusTerima kasih motivasinya, ijinkan terus belajar dg bunda may yg hebat luar biasa.
HapusEfek diguyur hujan kmrn sore bun kali bun ๐๐คญ
Luar biasa, ditengah kesibukan yg padat masih bisa mambuat resume yg lengkap
BalasHapusSemangat
Terima kasih bunda Tuti. Walau agak terseok2 tetap hrs diperjuangkan ๐
HapusTerima kasih support bunda Tuti.
BalasHapusSmg bisa mengikuti kelas BM sampai lulus
Luar biasa tulisannya lengkap lengkip tetap semangat menuju sukses berkarya
BalasHapusAamiin. Support gini nihhh yg bikin booster ๐ช๐
HapusLengkap sekali resumenya. Sedikit saran. Paragraf kedua terlalu panjang. Bisa dipenggal menjadi paragraf baru lagi
BalasHapusMksih om Brian support dan masukannya. Iya bener om ๐ baru nyadar. Siappp laksanakan
HapusTerbaik
BalasHapusKren
Virus pak Dail harus nularrrr. Pak Dail the best ๐
HapusSubhanallah kegiatannya ... Semoga penuh berkah. Terima kasih telah ikut menyimak walau mulai pukul 21.00.
BalasHapusResumenya keren ๐๐ป
Terima kasih bu Ditta atas ilmunya. Aamiin smg kitasll diberi kesehatan dan sll tebar manfaat kebaikan
Hapus